jump to navigation

Gapura Bajang Ratu July 23, 2012

Posted by anandakemas in Foto.
add a comment

Gapura Bajang Ratu merupakan pintu masuk ke suatu bangunan suci untuk memperingati wafatnya Raja Jayanegara.

Asal-Usul

Menurut Pararaton, nama asli Jayanagara adalah Raden Kalagemet putra Raden Wijaya dan Dara Petak. Ibunya ini berasal dari Kerajaan Dharmasraya di Pulau Sumatra. Ia dibawa Kebo Anabrang ke tanah Jawa sepuluh hari setelah pengusiran pasukan Mongol oleh pihak Majapahit. Raden Wijaya yang sebelumnya telah memiliki dua orang istri putri Kertanagara, kemudian menjadikan Dara Petak sebagai Stri Tinuheng Pura, atau “istri yang dituakan di istana”.

Menurut Pararaton, pengusiran pasukan Mongol dan berdirinya Kerajaan Majapahit terjadi pada tahun 1294. Sedangkan menurut kronik Cina dari dinasti Yuan, pasukan yang dipimpin oleh Ike Mese itu meninggalkan Jawa tanggal 24 April 1293. Naskah Nagarakretagama juga menyebut angka tahun 1293. Sehingga, jika berita-berita di atas dipadukan, maka kedatangan Kebo Anabrang dan Dara Petak dapat diperkirakan terjadi pada tanggal 4 Mei 1293, dan kelahiran Jayanagara terjadi dalam tahun 1294.

Nama Dara Petak tidak dijumpai dalam Nagarakretagama dan prasasti-prasasti peninggalan Majapahit. Menurut Nagarakretagama, Raden Wijaya bukan hanya menikahi dua, tetapi empat orang putri Kertanagara, yaitu Tribhuwaneswari, Narendraduhita, Jayendradewi, dan Gayatri. Sedangkan Jayanagara dilahirkan dari istri yang bernama Indreswari. Hal ini menimbulkan dugaan kalau Indreswari adalah nama lain Dara Petak.

Naik Takhta

Nagarakretagama menyebutkan Jayanagara diangkat sebagai yuwaraja atau raja muda di Kadiri atau Daha pada tahun 1295. Nama Jayanagara juga muncul dalam prasasti Penanggungan tahun 1296 sebagai putra mahkota. Mengingat Raden Wijaya menikahi Dara Petak pada tahun 1293, maka Jayanagara dapat dipastikan masih sangat kecil ketika diangkat sebagai raja muda. Tentu saja pemerintahannya diwakili oleh Lembu Sora yang disebutkan dalam prasasti Pananggungan menjabat sebagai patih Daha.

Dari prasasti tersebut dapat diketahui pula bahwa Jayanagara adalah nama asli sejak kecil atau garbhopati, bukan nama gelar atau abhiseka. Sementara nama Kalagemet yang diperkenalkan Pararaton jelas bernada ejekan, karena nama tersebut bermakna “jahat” dan “lemah”, hal itu dikarenakan kepribadian Jayanagara yang dipenuhi prilaku amoral namun lemah sebagai penguasa sehingga banyak pemberontakan yang timbul dalam masa pemerintahannya.

Jayanagara naik takhta menjadi raja Majapahit menggantikan ayahnya yang menurut Nagarakretagama meninggal dunia tahun 1309.

Dari Piagam Sidateka yang bertarikh 1323, Jayanagara menetapkan susunan mahamantri katrini dalam membantu pemerintahannya, yaitu sebagai berikut:

  1. Rakryan Mahamantri Hino: Dyah Sri Rangganata
  2. Rakryan Mahamantri Sirikan: Dyah Kameswara
  3. Rakryan Mahamantri Halu: Dyah Wiswanata

Pemberontakan yang Terjadi

Menurut Pararaton, pemerintahan Jayanagara diwarnai banyak pemberontakan oleh para pengikut ayahnya. Hal ini disebabkan karena Jayanagara adalah raja berdarah campuran Jawa-Melayu, bukan keturunan Kertanagara murni.

Pemberontakan pertama terjadi ketika Jayanagara naik takhta, yaitu dilakukan oleh Ranggalawe pada tahun 1295 dan kemudian Lembu Sora pada tahun 1300. Dalam hal ini pengarang Pararaton kurang teliti karena Jayanagara baru menjadi raja pada tahun 1309. Mungkin yang benar ialah, pemberontakan Ranggalawe terjadi ketika Jayanagara diangkat sebagai raja muda atau putra mahkota.

Pararaton juga memberitakan pemberontakan Juru Demung tahun 1313, Gajah Biru tahun 1314, Mandana dan Pawagal tahun 1316, serta Ra Semi tahun 1318. Akan tetapi, menurut Kidung Sorandaka, Juru Demung dan Gajah Biru mati bersama Lembu Sora tahun 1300, sedangkan Mandana, Pawagal, dan Ra Semi mati bersama Nambi tahun 1316.

Berita pemberontakan Nambi tahun 1316 dalam Pararaton juga disebutkan dalam Nagarakretagama, dan diuraikan panjang lebar dalam Kidung Sorandaka. Menurut Nagarakretagama, pemberontakan Nambi tersebut dipadamkan langsung oleh Jayanagara sendiri.

Di antara pemberontakan-pemberontakan yang diberitakan Pararaton, yang paling berbahaya adalah pemberontakan Ra Kuti tahun 1319. Ibu kota Majapahit bahkan berhasil direbut kaum pemberontak, sedangkan Jayanagara sekeluarga terpaksa mengungsi ke desa Badander dikawal para prajurit bhayangkari.

Pemimpin prajurit bhayangkari yang bernama Gajah Mada kembali ke ibu kota menyusun kekuatan. Berkat kerja sama antara para pejabat dan rakyat ibu kota, Kelompok Ra Kuti dapat dihancurkan.

Kematian Jayanagara

Pararaton mengisahkan Jayanagara dilanda rasa takut kehilangan takhtanya. Ia pun melarang kedua adiknya, yaitu Dyah Gitarja dan Dyah Wiyat menikah karena khawatir iparnya bisa menjadi saingan. Bahkan muncul desas-desus kalau kedua putri yang lahir dari Gayatri itu hendak dinikahi oleh Jayanagara sendiri.

Desas-desus itu disampaikan Ra Tanca kepada Gajah Mada yang saat itu sudah menjadi abdi kesayangan Jayanagara. Ra Tanca juga menceritakan tentang istrinya yang diganggu oleh Jayanagara. Namun Gajah Mada seolah tidak peduli pada laporan tersebut.

Ra Tanca adalah tabib istana. Suatu hari ia dipanggil untuk mengobati sakit bisul Jayanagara. Dalam kesempatan itu Tanca berhasil membunuh Jayanagara di atas tempat tidur. Gajah Mada yang menunggui jalannya pengobatan segera menghukum mati Tanca di tempat itu juga, tanpa proses pengadilan.

Peristiwa itu terjadi tahun 1328. Menurut Pararaton Jayanagara didharmakan dalam candi Srenggapura di Kapopongan dengan arca di Antawulan, gapura paduraksa Bajang Ratu kemungkinan besar adalah gapura yang tersisa dari kompleks Srenggapura. Sedangkan menurut Nagarakretagama ia dimakamkan di dalam pura berlambang arca Wisnuparama. Jayanagara juga dicandikan di Silapetak dan Bubat sebagai Wisnu serta di Sukalila sebagai Buddha jelmaan Amoghasiddhi.

Jayanagara meninggal dunia tanpa memiliki keturunan. Oleh karena itu takhta Majapahit kemudian jatuh kepada adiknya, yaitu Dyah Gitarja yang bergelar Tribhuwana Tunggadewi

Advertisements

Candi Tikus July 23, 2012

Posted by anandakemas in Foto.
add a comment

Nama Candi Tikus diberikan lantaran ketika dilakukan pembongkaran pada tahun 1914, oleh Bupati Mojokerto R.A.A Kromojoyo Adinegoro, disekitar candi itu pernah menjadi sarang tikus, dan hama tikus ini menyerang desa disekitarnya, setelah dilakukan pengejaran kawanan tikus itu selalu masuk ke gundukan tanah, yang setelah dibongkar ditemukan sebuah bangunan terbuat dari bahan bata merah dan denah persegi empat dengan ukuran 29,5 m x 28,25 m.

Mengutip dari buku karangan Drs I.G. Bagus L Arnawa, secara pasti tidak diketahui kapan candi Tikus ini didirikan karena tidak ada sumber sejarah yang memberitakan tentang pendirian candi ini. Dalam kitab Nagarakertagama yang ditulis oleh Prapanca pada tahun 1365 M (yang telah diakui oleh para pakar sebagai suatu sumber sejarah yang cukup lengkap memuat tentang kerajaan Majapahit, khususnya pada masa pemerintahan raja Hayam Wuruk), tidak disebutkan tentang eksistensi candi ini.

Namun demikian, ini tidak berarti bahwa serangkaian penelitian yang ditujukan guna mencari dan menentukan saat dibangunnya candi Tikus ini lantas manjadi tidak bisa dilaksanakan. Setidaknya, berdasarkan kajian arsitektural, diperoleh gambaran perbedaan dalam hal penggunaan bahan baku candi, yaitu bata merah.

Adanya perbedaan penggunaan bata merah (baik perbedaan kualitas maupun kuantitasnya), memberikan indikasi tentang tahapan pembangunan candi Tikus. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh para arkeolog, terbukti bahwa bata merah yang berukuran lebih besar berusia lebih tua dibandingkan dengan bata merah yang berukuran lebih kecil. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa selama masa berdiri dan berfungsinya, candi Tikus pernah mengalami dua tahap pembangunan. Pembangunan tahap pertama dilakukan dengan mempergunakan batu bata merah yang berukuran lebih besar sebagai bahan bakunya, sedangkan pembangunan tahap kedua dilakukan dengan mempergunakan bata merah yang berukuran lebih kecil.

Lain halnya dengan pendapat yang dikemukankan oleh N.J. Krom lewat buku “sakti”-nya yang berjudul Inleiding tot de Hindoe Javaansche Kunst II (Pengantar Kesenian Hindu Jawa). Dengan memperhatikan bahan dan gaya seni dari saluran air, pakar sejarah kesenian Jawa kuno berkebangsaan Belanda itu berasumsi bahwa ada dua tahap pembangunan candi Tikus.

Tahap pertama, saluran airnya terbuat dari bata merah dan memperlihatkan bentuknya yang kaku. Sedangkan tahap kedua saluran airnya terbuat dari batu andesit dan memperlihatkan bentuknya yang lebih dinamis serta dibuat pada masa keemasan Majapahit. Ini berarti pula bahwa menurut Krom, candi Tikus telah berdiri sebelum kerajaan Majapahit mencapai puncak keemasannya, yaitu pada masa pemerintahan Hayam Wuruk (1350 – 1380).

Sementara itu, ketika dilakukan pemugaran pada tahun 1984/1985, berhasil disingkap sisi tenggara bangunan candi Tikus. Kaki bangunan yang terdapat di sisi tersebut, menunjukan perbedaan ukuran bata merah yang dipergunakan sebagai bahan bakunya. Hal ini semakin memperkuat dugaan mengenai dua tahap pembangunan candi tersebut. Kaki bangunan tahap pertama yang tersusun dari bata merah yang berukuran besar, tampak ditutup oleh kaki bangunan tahap kedua yang tersusun dari bata merah yang berukuran lebih kecil. Kapan secara pasti pembangunan tahap pertama dan kedua ini dilakukan, belum jelas benar.

Adanya tangga yang menurun di sebelah utara, memberi kesan bahwa bangunan candi Tikus ini memang sengaja dibuat dibawah permukaan tanah. Tangga menurun disebelah utara itu, sekaligus merupakan petunjuk bahwa bangunan memiliki arah hadap ke utara. Dua buah kolam berbentuk persegi empat yang berukuran 3,5 x, 2 m dengan kedalaman 1,5 m, mengapit tangga masuk. Masing-masing kolam tersebut dilengkapi dengan tiga buah pancuran air yang berbentuk bunga padma (teratai) dan terbuat dari bahan batu andesit.

Pada sisi selatan teras terbawah terdapat sebuah bangunan berdenah persegi empat dengan ukuran 7,65 m x 7,65 m. Bangunan ini dianggap sebagai bangunan utama dari candi Tikus yang dilengkapi dengan 17 buah pancuran air yang berbentuk bunga padma dan makara. Pada bangunan induk tersebut, terdapat sebuah menara dan dikelilingi oleh 8 buah menara yang berukuran lebih kecil.

Susunan menara yang demikian itu telah menarik perhatian seorang Belanda yang bernama A.J. Bernet Kempers yang mengaitkannya dengan konsepsi religi. Dalam bukunya yang berjudul Ancient Indonesia Art, ia yang telah banyak berjasa dalam menyingkap masa pengaruh agama Hindu – Budha di Indonesia lewat kajian candi-candi yang mengatakan bahwa candi Tikus merupakan replika dari gunung Meru.

Gunung meru merupakan gunung suci yang dianggap sebagai pusat alam semesta yang mempunyai suatu landasan kosmogoni yaitu kepercayaan akan harus adanya suatu keserasian antara dunia dunia (mikrokosmos) dan alam semesta (makrokosmos). Menurut konsepsi Hindu, alam semesta terdiri atas suatu benua pusat yang bernama Jambudwipa yang dikelilingi oleh tujuh lautan dan tujuh daratan dan semuanya dibatasi oleh suatu pegunungan tinggi. Jadi Sangat mungkin Candi Tikus merupakan sebuah petirtaan yang disucikan oleh pemeluk Hindu dan Budha, dan juga sebagai pengatur debit air di jaman Majapahit.

Selain berfungsi sebagai pengatur debit air di kota, letaknya yang diluar kota itu memberi kesan bahwa sebelum masuk kota, air harus disucikan terlebih dahulu di candi Tikus. Dalam hal ini, jika bentuk bangunan candi Tikus dianggap sebagai manifestasi dari gunung Meru, maka setiap air yang keluar dari bangunan induk ini dipercaya sebagai air suci (amerta). Tak heran, bila kemudian air yang keluar dari candi Tikus juga dipercaya memiliki kekuatan magis untuk memenuhi harapan rakyat agar hasil pertanian mereka berlipat ganda dan terhindar dari kesulitan-kesulitan yang merugikan (ric)

Sumber : Mengenal Peninggalan Majapahit di daerah Trowulan – Drs I.G Bagus L Arnawa

Kyai / Ki Ranggo Wiro Sentiko July 16, 2012

Posted by anandakemas in Sejarah Palembang Darussalam.
5 comments

Dalam literatur sejarah Kesultanan Palembang Darussalam, tidak banyak kisah yang menceritakan tentang peri kehidupan beliau selain bahwa ia termasuk salah seorang pembesar yang menjabat sebagai menteri di masa kekuasaan Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo (SMB I).

Hingga saat ini, belum ada yang mengetahui siapa nama asli beliau. Karena sebagaimana kebiasaan di Palembang nama yang lazim dikenal dan disampaikan dari generasi ke generasi adalah sebuah nama gelaran bukan nama asli pun begitu yang tertera dalam naskah silsilah zuriat beliau di daerah 1 Ulu, Sungi Goren.

Nasab beliau adalah sebagai berikut Ki Ranggo Wiro Sentiko bin Ki Ranggo Diwangso bin Ki Ngabehi Rakso Upayo bin Kemas Tumenggung Yudapati (Khalifah Kecik) bin Pangeran Ratu Jamaluddin Mangkurat V Sedo Ing Pasarean bin Tumenggung Manco Negaro bin Pangeran Adipati Sumedang bin Pangeran Wiro Kesumo Cirebon (Muhammad Ali Nurdin/Ali Kusumowiro/Sunan Sedo Ing Margi) bin Sayyid Maulana Muhammad ‘Ainul Yaqin (Sunan Giri).

Bila dilihat dari susunan silsilah di atas dapat diketahui bahwa Ki Ranggo Wiro Sentiko merupakan anak dari mindo (istilah Palembang dalam menyebutkan hubungan keluarga dengan tingkatan “dua pupu”) dengan Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo.

Semenjak berakhirnya v Mangkurat VI Sedo Ing Rejek, kekuasaan Palembang kemudian diambil alih oleh adik beliau yaitu Pangeran Ario Kesumo Abdurrohim Kemas Hindi. Di masa inilah Palembang memutuskan hubungan politiknya dengan Mataram dan melahirkan suatu kekuasaan baru yang disebut sebagai Kesultanan Palembang Darussalam. Pangeran Ario Kesumo Abdurrohim kemudian mengangkat dirinya sebagai Sultan Palembang yang pertama, dengan gelar Sultan Abdurrahman Khalifatul Mukminin Sayyidil Iman dan pusat pemerintahan ia pindahkan dari Kuto Gawang ke Kuto Cerancangan yang terletak di Beringin Janggut atau sekarang berada disekitar pasar 16 Ilir. Sementara itu daerah seberang ulu ia serahkan pengawasannya kepada adik kandungnya, Kemas Tumenggung Yudapati yang kemudian di juluki sebagai Khalifah Kecik dan berkedudukan di tepi Sungi Goren.

Demikianlah riwayat kakek buyut dari Ki Ranggo Wiro Sentiko. Sementara kakek beliau yang bernama Ki Ngabehi Rakso Upayo, diceritakan menjabat sebagai Kepala Penjaga Istana Kuto Cerancangan di masa kekuasaan Sultan Agung Komaruddin Sri Teruno. Tercatat pula nama Nyimas Hatimah, putri dari Ki Ranggo Wiro Sentiko yang dinikahkan dengan Pangeran Suma Dilaga bin Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo.

Di masa akhir kekuasaan Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo, Ki Ranggo Wiro Sentiko demi memahami maksud dan keinginan junjungannya kemudian membangunkan sebuah areal pemakaman di daerah talang atau dataran tinggi (yang kemudian diberi nama sesuai dengan nama beliau) yang dipersiapkan untuk Sultan. Namun dikarenakan desain gubahnya yang kurang sesuai dengan selera Sultan, kemudian tanah tersebut beserta isinya diserahkan kepada Ki Ranggo Wiro Sentiko untuk digunakan oleh beliau beserta keturunan-keturunannya. Setelah itu Sultan meminta kepada Ki Ranggo Wiro Sentiko untuk membuatkan makam lain di daerah Lemah Abang yang akan menjadi tempat peristirahatan terakhir Sultan yang kemudian dikenal sebagai Gubah Kawah Tekurep.

Ki Ranggo Wiro Sentiko wafat dan dimakamkan di Gubah Ki Ranggo Wiro Sentiko di daerah Talang Keranggo 30 Ilir. Hampir seluruh keluarga dan keturunan beliau tercatat dimakamkan di Gubah ini termasuk cicit beliau yang bernama Kemas Demang Wirosentiko Adenan.

Oleh Megatian Ananda Kemas, S.Psi

– Dirangkum dari berbagai sumber –