jump to navigation

Kyai / Ki Ranggo Wiro Sentiko July 16, 2012

Posted by anandakemas in Sejarah Palembang Darussalam.
trackback

Dalam literatur sejarah Kesultanan Palembang Darussalam, tidak banyak kisah yang menceritakan tentang peri kehidupan beliau selain bahwa ia termasuk salah seorang pembesar yang menjabat sebagai menteri di masa kekuasaan Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo (SMB I).

Hingga saat ini, belum ada yang mengetahui siapa nama asli beliau. Karena sebagaimana kebiasaan di Palembang nama yang lazim dikenal dan disampaikan dari generasi ke generasi adalah sebuah nama gelaran bukan nama asli pun begitu yang tertera dalam naskah silsilah zuriat beliau di daerah 1 Ulu, Sungi Goren.

Nasab beliau adalah sebagai berikut Ki Ranggo Wiro Sentiko bin Ki Ranggo Diwangso bin Ki Ngabehi Rakso Upayo bin Kemas Tumenggung Yudapati (Khalifah Kecik) bin Pangeran Ratu Jamaluddin Mangkurat V Sedo Ing Pasarean bin Tumenggung Manco Negaro bin Pangeran Adipati Sumedang bin Pangeran Wiro Kesumo Cirebon (Muhammad Ali Nurdin/Ali Kusumowiro/Sunan Sedo Ing Margi) bin Sayyid Maulana Muhammad ‘Ainul Yaqin (Sunan Giri).

Bila dilihat dari susunan silsilah di atas dapat diketahui bahwa Ki Ranggo Wiro Sentiko merupakan saudara mentelu (istilah Palembang dalam menyebutkan hubungan keluarga dengan tingkatan “tiga pupu”) dengan Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo.

Semenjak berakhirnya masa  Kerajaan Palembang dan wafatnya Pangeran Ratu Mangkurat Jamaluddin Mangkurat VI Sedo Ing Rejek, kekuasaan Palembang kemudian diambil alih oleh adik beliau yaitu Pangeran Ario Kesumo Abdurrohim Kemas Hindi. Di masa inilah Palembang memutuskan hubungan politiknya dengan Mataram dan melahirkan suatu kekuasaan baru yang disebut sebagai Kesultanan Palembang Darussalam. Pangeran Ario Kesumo Abdurrohim kemudian mengangkat dirinya sebagai Sultan Palembang yang pertama, dengan gelar Sultan Abdurrahman Khalifatul Mukminin Sayyidil Iman dan pusat pemerintahan ia pindahkan dari Kuto Gawang ke Kuto Cerancangan yang terletak di Beringin Janggut atau sekarang berada disekitar pasar 16 Ilir. Sementara itu daerah seberang ulu ia serahkan pengawasannya kepada adik kandungnya, Kemas Tumenggung Yudapati yang kemudian di juluki sebagai Khalifah Kecik dan berkedudukan di tepi Sungi Goren.

Demikianlah riwayat kakek buyut dari Ki Ranggo Wiro Sentiko. Sementara kakek beliau yang bernama Ki Ngabehi Rakso Upayo, diceritakan menjabat sebagai Kepala Penjaga Istana Kuto Cerancangan di masa kekuasaan Sultan Agung Komaruddin Sri Teruno. Tercatat pula nama Nyimas Hatimah, putri dari Ki Ranggo Wiro Sentiko yang dinikahkan dengan Pangeran Suma Dilaga bin Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo.

Di masa akhir kekuasaan Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo, Ki Ranggo Wiro Sentiko demi memahami maksud dan  keinginan junjungannya kemudian membangunkan sebuah areal pemakaman di daerah talang (yang kemudian diberi nama sesuai dengan nama beliau) yang dipersiapkan untuk Sultan. Namun dikarenakan desain gubahnya yang kurang sesuai dengan selera Sultan, kemudian tanah tersebut beserta isinya diserahkan kepada Ki Ranggo Wiro Sentiko untuk digunakan oleh beliau beserta keturunan-keturunannya.

Ki Ranggo Wiro Sentiko wafat dan dimakamkan di Gubah Ki Ranggo Wiro Sentiko di daerah Talang Keranggo 30 Ilir. Hampir seluruh keluarga dan keturunan beliau tercatat dimakamkan di Gubah ini termasuk cicit beliau yang bernama Kemas Demang Wirosentiko Adenan.

Oleh Megatian Ananda Kemas, S.Psi

– Dirangkum dari berbagai sumber –

Comments»

1. Panji Negeri - September 13, 2012

Di dalam silsilah Ikatan Sanak Kelurga, Yayasan Liting (Ogan Ilir), terdapat nama Poyang Wadin, yang terhitung sebagai zuriat Sunan Sungai Goren…

Adakah hubungannya dengan, anak keturunan Ki Mas Tumenggung Yudapati (Sungai Goren), mohon penjelasannya ?

Sumber :
http://ikasake-liting.com/index.php?option=com_content&view=article&id=312:sejarah&catid=4:profil&Itemid=15

anandakemas - September 13, 2012

Untuk hal ini saya belum dapat memastikannya karena data yang ada pada kami tidak terdapat nama tersebut. Harus ada penelitian lebih lanjut mengenai hal ini.

2. panjinegeri - September 13, 2012

Sedikit cerita tentang Poyang Wadin, mudah2an bisa diselusuri jati dirinya…

Bermula dari kisah perjalanan tiga saudara keturunan Sunan Sungai Goren yaitu Poyang Dolah, Poyang Bekal dan Poyang Wadin. Bersama rombongan kerabat dari Kesultanan Palembang, ketiga bersaudara ini melarikan diri. Mereka mengungsi ke daerah di luar Palembang, karena tidak mau tunduk pada Pemerintah Belanda.

Mereka mengarungi Sungai Musi. Sesampainya di Muara Sungai Ogan, mereka berpencar. Namun tetap sama-sama ke hulu.

Ketika sampai di Muara Pegadungan Risan Jenang, yang sekarang dikenal dengan Talang Balai Baru, singgahlah Poyang Bekal.

Dua saudara lagi melanjutkan perjalanan ke hulu hingga tiba di Serijabo. Adalah Poyang Dolah yang tinggal di sini. Sayangnya beliau meninggal ketika masih bujang dan dimakamkan di Serijabo.

Akhirnya, Poyang Wadin melanjutkan perjalanan sendirian. Tidak diketahui persis alasannya, mengapa tidak menetap di Serijabo. Mungkin karena Serijabo adalah dataran rendah.

Di akhir pengembaraannya mencari tempat pengungsian yang aman, Poyang Wadin menjatuhkan pilihan pada Muara Batang Hari Pinang sebagai tempat bermukim—mungkin juga karena daerah ini merupakan dataran lebih tinggi dibanding Serijabo.

Sayangnya informasi tentang siapa ayahanda Poyang Wadin, sampai sekarang belum ditemukan. Ada yang mengatakan Poyang Wadin bernama asli Zainudin, menantu Sunan Sungai Goren (menurut R Hafizkamil, dalam bukunya Dece, Rokeba, anak, cucu dan cicik dan Bayang-bayang Kemas Alijidin).

Sementara sumber lain mengatakan Poyang Wadin adalah cucu dari Sunan Sungai Goren (menurut H Zainal Arifin dan H M Kafen Malyani)…

Anak keturunan Poyang Wadin, banyak bermukim di daerah Ogan Ilir, Palembang dan Jakarta. Beberapa keturunannya yang menonjol di antaranya :

1. Kolonel (Purn) Animan Akhyat, yang merupakan ayah dari Walikota Palembang Ir. Eddy Santana Putra

2. H. Zainal Arifin, mantan Pimpinan Muhammadiyah di Sumatera Selatan

3. Jend (Purn) Ryamizard Ryacudu, mantan KASAD

Demikian sedikit informasi tentang beliau, terima kasih…

anandakemas - September 14, 2012

Silahkan sertakan manuscript maupun benda-benda yang ada kaitannya dengan tokoh yang Anda sebutkan untuk diteliti lebih lanjut oleh kami.

3. HB Johar - November 19, 2012

Assalamualaikum Anandakemas. Saya ingin bertanya, apakah gelaran “Khalifah Kecil” bagi Kemas Tumenggung Yudapati juga disebutkan gelaran “Raden Nong Chik” (Raja Kecil)? Kerna saya ada menemukan catatan silsilah dari kakek saya yang berhijrah dari Palembang ke Singapura.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: