jump to navigation

Syeikh Kemas H. Muhammad Azhary bin Kemas H. Abdullah (1811-1874M) August 7, 2012

Posted by anandakemas in Sejarah Palembang Darussalam.
trackback

Ada dua ulama Palembang yang namanya hampir serupa dan seringkali salah dipertukarkan orang. Yang pertama lahir, dibesarkan, dan menjadi terkenal di daerah 5 Ulu dan sekitarnya. Kemudian yang kedua lahir, dibesarkan dan menjadi terkenal di 26 Ilir dan sekitarnya. Yang kedua hidup lebih belakangan dan dapat dikategorikan sebagai ulama paruh kedua abad ke 19M dan awal abad 20M. Selain sebagai ulama, keduanya juga aktif dalam menulis, sehingga tidak jarang membuat bingung para pengkaji naskah-naskah Islam di Palembang. Salah satu ciri khas yang dapat membedakan keduanya yaitu ulama yang kedua seringkali menggunakan syair baik pada permulaan dan penutup tulisannya dan juga di dalam isi dan penjelasan kitab-kitabnya. Adapun ulama yang dibicarakan saat ini adalah yang lahir lebih awal yaitu Syeikh Kemas H. Muhammad Azhary bin Kemas H. Abdullah bin Kemas H. Ahmad.

Syeikh Kemas H. Muhammad Azhary lahir di kampung Pedatuan, Palembang, pada tanggal 27 Jumadil Akhir 1226 H (1811M). Ia adalah keturunan kaum bangsawan Palembang yang dapat dilacak silsilahnya hingga ke Sunan Kudus. Ayahnya bernama Kemas H. Abdullah bin Kemas H. Ahmad bin Kemas H. Abdullah bin Mas Nuruddin (Pangeran Palembang) bin Mas Syahid (Panembahan Palembang Amir Hamzah) bin Sayyid Ja’far Shadiq (Sunan Kudus) dan seterusnya hingga ke Nabi Muhammad SAW. Sedang ibunya bernama Nyimas Habibah binti Kemas Hasanuddin bin Kemas Sinda.

Diceritakan bahwa Kemas Muhammad Azhary pertama kali belajar dasar-dasar ilmu agama Islam kepada orangtuanya sendiri yakni Kemas H. Abdullah (1755-1848M). Setelah memiliki pengetahuan tentang dasar-dasar ilmu agama Islam, sekitar tahun 1826M atau ketika berusia 15 tahun ia berangkat ke Timur Tengah, tepatnya ke Mekah dan Madinah untuk melanjutkan pendidikan. Di sinilah Kemas Muhammad Azhary mendalami ilmu-ilmu keislaman terutama fiqih, tauhid, dan tasawuf sehingga dia menjadi salah seorang ulama besar yang berpengaruh di tanah kelahirannya. Ia belajar di sana selama lebih dari 13 tahun. Diantara guru-gurunya yaitu Sayyid Ahmad bin Sayyid Abdurrahman, Sayyid Ahmad Dimyati, Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, Syaikh Abdul Ghani Bima, dan Syeikh Ahmad Khatib Sambas. Salah seorang sahabat dekatnya selama menimba ilmu adalah Sayyid Al-Bakry bin Sayyid Muhamad Syatha Al-Dimyati, penulis kitab I’anah At-Thalibin yang merupakan syarah atas kitab Fath Al-Mu’in (1998:10).

Pada tahun 1840M, Syeikh Kemas Muhammad Azhary pulang ke Palembang. Tetapi pada tahun itu juga dia berangkat lagi ke Mekah dan kembali lagi pada tahun 1843M ke Palembang untuk memberikan pengajaran agama Islam kepada masyarakat. Selain ilmu fiqih, tauhid, dan tasawuf, beliau juga ahli dibidang ilmu falaq. Dia termasuk salah satu penyebar tarekat Sammaniyah dan aktif dalam menulis. Tidak diketahui secara pasti berapa banyak kitab yang pernah ditulisnya. Beberapa karyanya yaitu kitab ‘Athiyah Ar-Rahman yang selesai ditulis pada tahun 1259H/1843M dan kemudian dicetak untuk pertama kali pada tahun 1304H/1887M di percetakan Al-Mayriyah Al-Kainah, Mekah. Kitab ini menggunakan bahasa Melayu Palembang dan dihalaman judulnya tertulis: “Inilah kitab yang dinamakan ‘Athiyah Ar-Rahman pada menyatakan qawa’id al-iman dengan bahasa Melayu Palembang karangan hadharah al-‘alim al-‘alamah al-marhum yukrim Allah Ta’ala As-Syeikh Muhammad Azhary bin ‘Abdullah Al-Palimbani”. Kata “almarhum” menunjukkan bahwa ketika itu pengarang kitab sudah meninggal dunia. Pada halaman akhir, kitab tersebut mendapat pengesahan dan sambutan penutup dari Syeikh Daud bin Ismail Al-Fathani dalam bahasa Melayu dan Arab. Kitab yang berjumlah 20 halaman ini menguraikan kaidah-kaidah iman sebagai ditunjukkan dari rukun iman yang enam. Inti kitab ini menjelaskan rukun-rukun iman yang diawali dengan ucapan basmalah dan hamdalah dan diakhiri juga dengan hamdalah dan shalawat atas Nabi SAW. Karya beliay yang kedua yaitu kitab suci al-Quran tulisan tangan yang selesai ditulis pada tahun 1263H/1848M. Ketiga, kitab Tuhfah al-Muridin yang selesai ditulis pada tahun 1276H/1859M di Mekah. Kitab ini belum pernah diterbitkan masih dalam bentuk tulisan tangan yang menggunakan bahasa Arab dan merupakan syarah atas syair dari gurunya, Syeikh Ahmad bin Qasim Al-Hasany. Isi kitab ini membicarakan ilmu falaq yaitu ilmu tentang peredaran bintang. Seperti diketahui Syeikh Kemas Muhammad Azhary merupakan seorang ahli ilmu falaq yang terkenal di Palembang berdampingan dengan Syeikh Kiagus H. Muhammad Akib bin Kiagus Hasanuddin sebagaimana ditulis oleh Kyai Haji Muhammad Asyiq ketika dia membantah cara menetapkan awal bulan Ramadhan:

“Kami telah mendapat kabar yang mutawatir adalah pada zaman dahulu-dahulu di negeri Palembang ini Pangeran Penghulu punya aturan apabila berkehendak memutuskan suatu hokum yang belum tahqiq maka mereka itu menyuruh khatib penghulunya minta fatwa pada ulama yang semasa dengan mereka itu seperti Al-Marhum Qadwatuna Al-Haj Muhamad Akib bin Hasanuddin dan Al-Marhum As-Syeikh Muhammad Azhary bin Abdullah maka apabila telah dapat nas dan fatwa dari ulama yang tersebut itu barulah mereka itu putuskan hokum itu dengan fatwa ulama tiadalah yang seperti disebut muallif ini dan juga kami telah dapat tahu sendiri di masa Pangeran Penghulu Raden Mustafa dan Khatib Penghulunya Al-Marhum Raden H. Awang beberapa kali disuruhnya minta fatwa pada Al-Mukarram Syaikhuna Abdullah Azhary dan begitulah aturan qadhi zaman dahulu-dahulu..” (1922:2)

Syeikh Kemas H. Muhammad Azhary wafat di Mekah pada tanggal 18 Robiul Awal 1291H (1874M) dan dimakamkan di sana.

Sumber:

–          Ulama Palembang Pada Abad XIX Pemikiran Dan Peranannya Dalam Masyarakat : Laporan Penelitian / Zulkifli, MA

–          Catatan Silsilah Kiyai Pedatuan Kemas H. Abdullah Azhary bin Kemas H. Muhammad Azhary

Comments»

1. Mashel Yuri - April 29, 2016

(Tambahan Informasi)
Dipalembang pada waktu hampir bersamaan terdapat kurang lebih ada 4 nama Syech Azhary yang sama diantaranya nama dan binnya pun hampir sama yang membedakan bisa diliat julukan nama ,silsillah yang ada diketurunan masing2 dari 4 nama tsb penulis mendapatkan informasi beliau2 tsb masih ada hubungan kekerabatan seperti salah satunya Sepupu dgn yg lain Saudara ipar. Perhatikan bin nya:
SYECH. KMS. DATUK. KI. H.MUHAMMAD AZHARI bin KMS DATUK KI H ABDULLAH)
(Azhari mudo atau Kyai Syech)

KMS.KH.MUHAMMAD.AZHARI (Seberang Ulu)
(Azhari Tuo)

KMS.KI.H.ABDULLAH.AZHARI bin KMS. KI.H.MUHAMMAD.AZHARI (Seberang Ulu )
(KI. PEDATUAN)

KH.MUHAMMAD AZHARI Imam
(Azhari Imam)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: