jump to navigation

Mengenal Maenpo Aliran Suliwa October 17, 2013

Posted by anandakemas in Foto.
trackback

Rd Nunung

Perkembangan Maenpo di wilayah Cianjur pada akhir abad XIX tentu tidak lepas dari meningkatnya geliat seni di lingkungan masyarakat Cianjur pada waktu itu. Diawali dengan lahirnya seni Tembang Cianjuran pada masa R.A.A Kusumaningrat (Dalem Pancaniti), masyarakat Cianjur perlahan mulai dijangkiti minat terhadap kegiatan seni dan budaya. Tumbuhnya kecintaan pada dunia seni perlahan tapi pasti membangkitkan daya kreativitas masyarakat untuk menciptakan kreasi baru yang disesuaikan dengan minat dan bakatnya masing-masing.

Pengaruh ini juga turut dirasakan di kalangan praktisi beladiri Cianjur. Sejak dikenalkannya Maenpo Cikalong dan Sabandar kepada masyarakat umum, banyak aliran-aliran baru yang kemudian bermunculan serta turut meramaikan khasanah Maenpo di Cianjur. Tentu hal ini tidak lepas dari peran Rd. Ibrahim dan juga Mama Sabandar yang menurunkan ilmunya disesuaikan dengan karakter pribadi masing-masing murid seolah memberikan kebebasan untuk berkreasi sesuai dengan pengalaman dan situasi di lapangan.

Salah satu tokoh yang kemudian mengembangkan alirannya sendiri yaitu Rd. Obing Ibrahim. Beliau berhasil meramu aliran Cikalong dan Sabandar dengan mengambil intisarinya dan menciptakan apa yang sekarang disebut sebagai aliran Suliwa.

Aliran ini memiliki ciri khas dalam memanfaatkan lintasan gerak dan perpindahan bobot tubuh untuk mengolah serangan lawan yang pada prakteknya bisa dilakukan baik dengan jalan Cikalong maupun dengan jalan Sabandar.

Penempaan melalui pola pengerasan dan pelemasan otot serta pengaturan nafas untuk meningkatkan ketajaman rasa, masih menjadi fokus utama aliran ini.

Untuk menguasai Suliwa, seorang siswa akan menjalani 2 tahapan latihan, yaitu:

1. Jurus, merupakan proses internalisasi kaidah-kaidah aliran Suliwa yang dilakukan melalui latihan pengulangan gerakan secara individu.

2. Usik, proses latihan aplikasi penerapan kaidah Suliwa yang dilakukan bersama dengan partner latihan.

Ketika menciptakan aliran ini, Rd. Obing Ibrahim membuatnya dalam 2 bentuk:

  • Jurus 5 (Diwariskan kepada putranya, Rd. Nunung Ahmad Dasuki)
    1. Suliwa
    2. Susun
    3. Serong
    4. Nuur
    5. Tajong
  • Jurus 14 (Diwariskan kepada Rd. Mastum)
    1. Suliwa
    2. Jurus Suliwa
    3. Suliwa Muka
    4. Jujur
    5. Renggang
    6. Dobelan Suliwa
    7. Dobelan Jurus
    8. Hurupan Suliwa
    9. Gibas
    10. Rapet
    11. Pancer
    12. Getrak
    13. Ceplos
    14. Suliwa Malik

Masing-masing bentuk tersebut, mewakili karakter yang berbeda meskipun tetap memiliki kaidah yang sama.

Semasa hidup Rd. Nunung Ahmad Dasuki, aliran Suliwa jurus 5 sempat mengalami perkembangan di beberapa daerah seperti di Bandung dan wilayah Cianjur Selatan (Tanggeung dan Cijati).

Sedangkan untuk Suliwa jurus 14 berkembang di kalangan terbatas di daerah Bandung melalui jalur Rd. Tarmidi.

Demikian sekilas perkenalan mengenai aliran Suliwa yang penulis pelajari. Semoga informasi ini bisa menambah wawasan dan kembali menumbuhkan minat generasi muda untuk mencintai serta melestarikan seni dan budaya Indonesia.

Jakarta, 17 Oktober 2013

Ditulis oleh Megatian Ananda Kemas, S.Psi

Comments»

1. Murid Suliwa - April 8, 2016

Artikel yang bagus sekali Kang Ian. Jurus ke. 5 dan ke. 10 biasa juga disebut dengan gaya penamaan maenpo klasik yaitu “Kalima Renggang” dan “Kalima Rapet”. Untuk memberikan gambaran bahwa Jurus 6-10 adalah “kembaran” atau “double-an” jurus 1-5.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: